Di dalam pondok reyot itu, suara benda-benda jatuh berhamburan. Piring pecah, meja kecil terguling, semuanya berantakan akibat lemparan kasar dari seorang wanita yang berusaha mati-matian melawan.

"Tolong... tolong aku... siapa pun, tolong aku!" teriak wanita itu dengan suara pecah, penuh ketakutan dan putus asa.

Pria di hadapannya hanya menyeringai dingin. Tatapannya liar, penuh nafsu yang merendahkan. "Percuma. Tidak ada yang akan datang untukmu. Diamlah, terima saja. Aku tidak ingin membuang-buang waktu." ucapnya sambil perlahan menurunkan celananya.

Menyadari dirinya benar-benar tidak berdaya, wanita itu menggigit bibir hingga berdarah. Dengan nekat ia melompat, berniat membenturkan kepalanya sendiri pada tiang kayu pondok untuk mengakhiri penderitaannya.

"Wanita bodoh!" pria itu mendengus marah. Ia mengangkat tangannya, qi spiritual pekat menyelimuti udara. Seketika tubuh wanita itu terhenti di udara, digantung tanpa daya. Dengan satu gerakan kasar, tubuhnya ditarik mendekat bagai boneka tak bernyawa.

"Percuma, kamu tidak akan bisa melarikan diri dari genggamanku. Sekarang kamu akan mengerti bahwa kamu dilahirkan hanya untuk melayaniku." suaranya rendah, penuh kesombongan dan kebejatan. Dengan paksa ia merebahkan tubuh wanita itu, menindihnya tanpa ampun.

Tangisan pecah, isak penuh rasa sakit bercampur dengan desahan brutal pria itu. Wanita itu akhirnya menyerah, matanya kosong. Ia mencoba mematikan seluruh rasa, membiarkan dirinya menjadi benda mati agar tidak hancur lebih jauh oleh kebiadaban yang terus berlangsung.

Di luar pondok, suara tawa para Master Foundation terdengar riang, memuakkan. Mereka bersorak seolah sedang menonton pertunjukan murahan.

"Hahaha! Dengarkan baik-baik. Setelah Feiyan selesai dengan mainannya, berikutnya giliranku!" ucap salah satu dengan nada pongah, wajahnya dipenuhi kegirangan.

"Terlalu lama jika terus menunggu begini. Pimpinan bisa datang kapan saja dan kesempatan kita hilang. Mereka jelas tak berani melawan atau melarikan diri. Lebih baik kita pilih masing-masing seorang wanita, lalu biar Feiyan berjaga di sini." usul yang lain, matanya melirik ke arah para penduduk dengan penuh kerakusan.

"Aku setuju! Hahaha, cepatlah kita ambil bagian kita. Tapi ingat, sisakan beberapa untuk pimpinan." jawab rekannya sambil menepuk paha dengan tidak sabar.

Tanpa peduli pada tangisan dan jeritan, mereka berempat segera melangkah ke kerumunan. Tangan-tangan kasar meraih tubuh para wanita, menyeret mereka dengan paksa. Penduduk hanya bisa memeluk diri, menangis dalam bisu. Wanita-wanita itu dipaksa duduk di pangkuan para penjahat, wajah mereka dipenuhi ketakutan sementara tangan-tangan biadab mulai menciumi dan meremas tubuh mereka.

Suasana desa itu berubah menjadi neraka. Tidak ada harapan, hanya kengerian yang semakin dalam.

Lynx dan Leena melesat di udara, langkah mereka seperti kilatan cahaya yang membelah langit. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar teriakan pilu para wanita.

Lynx dan Leena langsung memicingkan mata, penglihatannya menembus jarak jauh. Ia bisa melihat empat gadis muda dipaksa oleh empat pria kasar, sementara ratusan penduduk, dari orang tua hingga anak-anak, hanya bisa berkumpul dengan wajah pucat. Tak ada yang mampu menolong.

Mereka segera mempercepat terbang menuju ke desa tersebut.

Wajah Leena memerah karena amarah. "Lepaskan mereka!" teriaknya lantang. Suaranya bergema menggetarkan seluruh desa.

Keempat pria itu terkejut. Sosok wanita cantik tiba-tiba muncul di hadapan mereka, begitu menawan namun memancarkan tekanan menakutkan. Awalnya mereka ingin menggoda, namun tubuh mereka langsung diliputi keringat dingin. Mereka tak bisa merasakan ranah kultivasi Leena, tetapi aura menekan yang menyeruak begitu besar hanya bisa berarti satu hal, wanita ini jauh lebih kuat dari mereka.

Sementara itu, mata Lynx menyapu sekeliling. Ia melihat pakaian para pria itu sama dengan para kultivator yang sebelumnya ia bunuh. Ia ingin segera menangkap mereka untuk mencari jawaban, sebelum Monrest menggunakan rantai jiwa untuk mengambil nyawa mereka.

Namun, telinganya menangkap suara isak pilu dari dalam pondok. Dengan Mata Langit, Lynx menembus dinding kayu rapuh itu. Pandangannya segera membara, seorang pria sedang menindih seorang wanita tanpa daya.

Tinju Lynx mengepal erat. Amarahnya meluap. Dari kedua matanya, terpancar sinar tak kasat mata. Dua sinar laser melesat cepat bagai kilatan petir, menembus kepala pria di dalam pondok.

Tanpa ada yang menyadari, pria itu terdiam kaku. Tubuhnya jatuh tak bernyawa, dua lubang hitam terbakar menembus pelipis kiri hingga kanan.

Wanita yang ditindihnya sempat tertegun. Begitu menyadari pria itu sudah tak bernyawa, ia segera mendorong tubuh itu menjauh, lalu bangkit dengan tergesa. Air matanya bercucuran. Rasa malu dan putus asa menelannya bulat-bulat. Dengan tangan bergetar, ia meraih pisau kecil di sudut ruangan.

"Aku lebih baik mati... daripada hidup dengan noda ini..." bisiknya serak, mengangkat pisau ke lehernya.

Dalam sekejap, Lynx sudah berada di depannya. Tangannya sigap merebut pisau itu sebelum sempat melukai kulitnya. Namun saat itu juga, Lynx baru menyadari, wanita itu sama sekali tidak berbusana. Sejenak ia terdiam kaku, kebingungan harus berbuat apa.

Sementara di luar pondok, para wanita yang semula dipaksa di pangkuan para kultivator berlari histeris kembali ke kerumunan penduduk. Wajah mereka basah air mata. Para kultivator yang ditinggalkan kaget, buru-buru mengeluarkan batu formasi untuk memberi kabar pada pimpinan mereka.

Leena melangkah maju dengan tatapan tajam. "Percuma meminta bantuan. Rekan-rekan kalian semua sudah masuk neraka. Kini giliran kalian."

Wajah keempat pria itu berubah pucat. Mereka tahu wanita di hadapan mereka kuat, namun mereka bukan pengecut. Dengan cepat, mereka mengambil posisi formasi, saling menutupi, siap menyerang bersama.

"Feiyan! Ada musuh! Cepat bantu kami!" salah satu berteriak. Mereka tak menyadari bahwa Feiyan, rekan mereka sudah terbunuh di dalam pondok.

Namun sebelum mereka sempat melangkah, tubuh mereka serentak merinding. Dingin menusuk sumsum, seakan ribuan jarum menembus tulang. Tubuh mereka seakan terpaku ke tanah, tak bisa bergerak sama sekali.

Dari udara, rantai-rantai tak kasat mata muncul begitu saja. Ujung-ujungnya melilit tubuh mereka erat, lalu menembus ke dalam, mencengkeram jiwa mereka.

"Aaaaaahhh! Lepaskan! Jangan...!" Teriakan kesakitan pecah. Wajah mereka penuh ketakutan saat jiwa mereka diseret keluar, lalu lenyap bersama jeritan terakhir. Tubuh mereka tergeletak kosong di tanah, seakan boneka mati tanpa roh.

Leena dan para penduduk hanya bisa tertegun. Mereka melihat empat pria itu mati begitu saja, seolah ditarik ke alam neraka.

Dari dalam pondok, Lynx yang masih menggunakan Mata Langit menyaksikan kejadian itu. Wajahnya muram. "Aku terlambat. Monrest sudah membunuh mereka..."

Lynx merasa sangat marah melihat kekejaman yang dilakukan Monrest terhadap anak buahnya sendiri. Ia mengepalkan tangan, namun tak bisa berbuat banyak. Saat ini, ia harus fokus memastikan wanita di hadapannya tidak melakukan hal nekat lagi. Lynx kebingungan. Wanita itu masih gemetar tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Ia hanya bisa berharap Leena segera masuk dan menanganinya.

Para penduduk desa mulai berdatangan dengan langkah ragu. Wajah mereka masih pucat karena ketakutan, namun mata mereka dipenuhi rasa syukur. Satu per satu mereka mendekat sambil menunduk dalam-dalam. Ada yang bergetar suaranya saat mengucapkan terima kasih, ada pula yang hanya mampu menangis sambil memegang tangan Leena.

Leena tersenyum tipis, lalu berjalan mengikuti arah pondok kecil tempat Lynx tadi masuk. Ia mendorong pintu perlahan, dan pandangannya langsung membeku. Lynx berdiri tegak di dalam ruangan, berhadapan dengan seorang wanita yang tubuhnya telanjang, penuh luka dan lebam.

Sesaat dada Leena terasa sesak oleh rasa cemburu. Ada kilatan getir di matanya, seolah bayangan buruk menghantam pikirannya. Namun detik berikutnya, ia menyadari situasi sebenarnya. Di dekat kaki wanita itu tergeletak jasad seorang pria, tubuhnya kaku dengan darah masih menetes di lantai.

Leena terdiam, menelan ludah pahit. Ia bisa melihat sorot mata kosong wanita itu, juga pisau kecil yang tergeletak di dekat kakinya.

Lynx menoleh pada Leena, suaranya tenang namun mengandung beban berat. "Leena, aku akan keluar. Kamu temani dan tenangkan wanita ini. Dia berniat mengakhiri hidupnya."

Leena mengangguk perlahan. Ia mendekat dengan hati-hati, menyingkirkan rasa cemburu yang masih bersemayam, menggantinya dengan empati. Sementara itu Lynx melangkah keluar, meninggalkan suasana tegang di dalam pondok.

